Darah Itu, Ah!

Merinding dan merinding.

Ketika saya semalam melihatnya benar-benar merinding. Waktu itu saya melihat ke kanan ke kiri mencoba tahu bagaimana reaksi manusia-manusia yang ada di sekitar saya yang ternyata mereka asyik dengan diri sendiri atau dengan teman bicara masing-masing. Rasanya mereka semua melihat juga apa yang saya saksikan tapi karena tak tahan juga akhirnya mereka pura-pura tak mengetahuinya. Mungkin itu, dan saya tak bisa seperti mereka.

Di depan saya duduk seorang wanita yang tak jelas berapa umurnya karena tampang dan bajunya begitu kucel dan tak sedap lama-lama dipandang. Dia duduk menyender pada tiang besi di peron stasiun kereta Manggarai. Tepatnya sesekali dia menyandar, mungkin untuk melepas pegal di punggungnya karena dia lebih sering menunduk melihat ke arah selangkangannya. Kedua tangannya bergerak-gerak pelan yang ternyata dia sedang mengelap kemaluannya. Ini yang membuat saya merinding.

Rupanya perempuan itu sedang menstruasi dan dia mengelap darah yang keluar di peron stasiun di sekitar banyak orang begitu saja. Dia gunakan apa saja sebagai lap karena memang tak ada yang dia punya. Dia ambil kertas yang ada di dekatnya duduk atau kantong pelastik yang dibuang orang bekas bungkus makanan. Ampun…saya tak sengaja melihatnya dan benar-benar merinding.

Tak bisa berbuat apa-apa saya hanya mengutuki dunia tempat berpijak. Kenapa harus ada yang seperti itu di tengah masyarakat yang gila pamer harta benda dan sibuk mengeruk uang.

Dipublikasi di Uncategorized | Tag , , | Tinggalkan Komentar

Negri Kleptokrasi

Di koran hari ini ada tulisan tentang pernyataan advokat terkenal Adnan Buyung Nasution yang mengatakan negri ini bisa jadi Negri Kleptokrasi kalau begini terus keadaannya. Maksudnya tentu saja negri yang dipimpin oleh para tukang kutil alias maling.

Entah sejak kapan tradisi ini hidup di negri ini. Tentu bukan hal baru, jadi tak perlu ada pembelaan lagi. Sekarang tinggal disadari saja bahwa gen kita ini potensi jahatnya lebih kuat dari potensi baiknya.

Lupakan bersilat lidah kalau ingin masa depan cerah. Mandi junub sehari tiga kali pun belum cukup membuang najis yang jangan-jangan memang bawaan ini.

Dipublikasi di asal, usil | Tag , | 1 Komentar

Polri Menindih Kami dengan Payudara Melinda Dee

Kabar Inong Melinda yang kini sedang jadi tahanan mengalami masalah dengan payudaranya dan akan dioperasi dengan biaya dari Jamsostek jelas merupakan penghinaan bagi rakyat miskin. Ini sudah keterlaluan, sementara banyak rakyat miskin bergelimpangan di emperan toko dan di kampung-kampung orang sakit tak bisa berbuat banyak mengobati sakitnya, uang di Jamsostek yang mestinya untuk mengurusi kesehatan mereka yang kini hidupnya terus dibebani kesulitan seenaknya saja dipakai untuk mengurus payudara wanita penjahat yang hidupnya mewah. Rakyat Indonesia memang bodoh dan dibikin bodoh, tapi kekejian aparat (Polri) dalam hal ini rasanya sudah sangat luar biasa memuakkan. Kenyataan ini harus dikutuk oleh segenap warga negara yang sadar keadaan. Dan harus ada tindakan untuk menyikapi ini semua. Ya, Tuhan…kami rakyat sudah tak tahan dengan penghinaan ini, kami yang terus ditindih dengan beban hidup yang dibuat oleh para penguasa kami dan kini ditambahi dengan beban berupa payudara bengkak benar-benar hampir putus asa, Tuhan beri kekuatan untuk mendobrak kelaliman ini. Atau hancurkan negri ini segera.

Dipublikasi di asal, Cerita | Tag , , | Tinggalkan Komentar

Simaklah (Ketujuh)

“Hiduplah dengan kelompok anda sendiri dan anggaplah diri anda yang terbaik.”
Syaithon; Doktrin nomor: 69696699

Dipublikasi di asal | Tinggalkan Komentar

Islam KTP atau Islam Baju?

Tak pernah nonton televisi jadi ketinggalan info. Ternyata ada sinetron berjudul Islam KTP di televisi (entah televisi apa?) dan saya tahu bukan karena menontonnya tapi dari ribut di Facebook dan blog. Katanya bagus, tapi saya pikir dari judulnya yang asal saya sudah menduga isinya cuma tingkah konyol para pelawak masa kini.

Istilah Islam KTP sebenarnya istilah lama. Maksudnya orang yang dianggap beragama Islam atau Muslim tapi tidak mengamalkan ritual sebagaimana lazimnya Muslim lakukan. Sesuatu yang dulu saya tak ambil pusing, karena sebenarnya bukan Muslim KTP itu saja yang harus disalahkan, tapi lingkungan terutama orang-orang pandainya juga bersalah.

Kini sebenarnya ada yang lebih menghawatirkan. Sesuatu yang saya sebut Islam Baju. Setelah marak Busana Muslim banyak orang memakainya di mana-mana, tapi semuanya sekedar baju. Kulit saja. Faktanya di masyarakat tak ada bukti yang menunjukkan kalau nilai-nilai Islam mengejawantah. Bahkan ada kecenderungan orang-orang yang mengenakan baju yang dilabeli Islam ini bersikap seperti sedang menghancurkan citra Islam.

Dipublikasi di usil | Tag , , | 2 Komentar

Binatang Ternak

Bagi anda yang biasa naik KRL (Kereta Rel Listrik) pasti sudah lazim dengan pengalaman berdesak-desakan bahkan dorong-dorongan saat naik atau turun KRL. Dan mungkin anda bahkan pernah dalam dorong-dorongan karena takut kereta keburu jalan merasa sangat jengkel karena kalah dalam adu kuat. Seperti beberapa waktu lalu ada seorang ibu yang hendak turun dari kereta di stasiun Manggarai harus terbawa ke Tebet karena ketika akan turun terdorong oleh penumpang yang naik dan keretanya keburu jalan sebelum sempat turun. Tak aneh kalau kemudian memaki-maki karena jengkel, apalagi waktunya sudah malam.

Dan tadi pagi pun ada peristiwa lazim itu. Memang sialan benar calon penumpang yang tak mau mengalah. Maka ketika ada yang mengatai mereka dengan ungkapan “binatang ternak” saya cuma geli. Pakaian boleh perlente, tapi sikap dan tingkah laku benar-benar memperihatinkan.

Binatang ternak, makhluk yang hidup karena dipelihara oleh pemiliknya. Dan kalau melihat diri yang hidup karena kucuran gaji bulanan dan seakan tak bisa hidup tanpa itu rasanya memang sebutan “binatang ternak” pas adanya. Toh manusia konon masih sejenis binatang.

Prilaku kita yang mengaku manusia akhir-akhir ini memang pada kenyataannya tak lebih baik dari binatang. Seakan-akan tidak memanfaatkan pikirannya, lebih mengutamakan nafsu. Tak ingin mengalah dan seperti siap menerkam sesamanya. Jadi apa mau dikata, rasanya tak perlu marah dengan umpatan “binatang ternak”. Bahkan dalam Agama dinyatakan bahwa manusia yang lebih mengutamakan hawa nafsunya lebih hina dari binatang ternak. Kiranya masih beruntung.

Dipublikasi di asal, Cerita | Tag , , | Tinggalkan Komentar

Ariel Vs Gayus

Kalau lihat berita yang beredar hari-hari belakangan yang nampang di halaman depan koran pasti kalau nggak Gayus pasti Ariel. Mereka memang sedang menghadapi masalah dan sedang disidang dalam perkara yang berbeda. Tpi tahukah anda bahwa keduanya sedang bersaing? Bersaing untuk apa mereka? Nah, silahkan cari jawabannya, soalnya saya juga lagi pusing nyari jawaban.

Dipublikasi di asal | Tag , | Tinggalkan Komentar

Obama Cuma Numpang Makan

Obama, Presiden Amerika Serikat yang terkenal itu kemarin datang ke sini ternyata cuma numpang makan doang. Makan baso, nasi goreng dan apa lagi entah. Padahal saya membayangkan Beliau itu jalan-jalan ke Menteng mengenang masa lalunya dan kalaupun makan baso makannya di pinggir jalan bukan di istana.

Kira-kira dia bakal datang lagi enggak ya? Semoga datang lagi dan makan basonya jangan di istana tapi di pinggir jalan biar saya bisa ketemu dan salaman. Iya nggak?

Dipublikasi di asal | Tag | Tinggalkan Komentar

Soal Gaji Pejabat

Beberapa hari yang lampau Zaim Uchrowi, kolomnis Republika dalam sebuah talk show mengatakan bahwa semestinya gaji Presiden itu sepuluh milyar. Lalu jaksa agung dan kapolri digaji dua milyar, tapi tak terima apa-apa lagi setelah itu.

Ada-ada saja. Pernyataan itu jelas sekali sangat emosional. Apa jaminannya kalau para pejabat itu akan menjadi lebih baik kerjanya jika digaji sebesar itu. Juga mungkinkah mereka tidak akan mencari pendapatan lain diluar gajinya.

Menurut saya justru semestinya mereka itu, tak perlu digaji. Toh, presiden menduduki jabatannya bukan karena diminta tapi mencalonkan diri. Para pejabat juga kebanyakan menawar-nawarkan diri, hal itu mestinya menjadi bukti kalau mereka menghendaki jabatan itu karena mereka suka dengan tanggungjawab yang ada, jadi kenapa harus repot-repot membayar mereka. Bahwa pada akhirnya negara membayar mereka itu karena semestinya orang yang telah bekerja itu mendapat imbalan.

Para pejabat itu diberi imbalan karena kerjanya itu. Bukan karena jabatannya. Dan kalau dalam menjabat dia melakukan kesalahan harus dihukum berat, seperti kalau mereka korupsi yang berarti dia curang dalam tugas hukumannya harus yang terberat yaitu disuruh kerja sosial seumur hidup membersihkan sarana umum.

Tapi andai mereka sukses, mereka diberi gelar pahlawan dan biaya hidupnya seumur hidup ditanggung oleh negara. Dan hanya yang telah bekerja, bukan anak-anak apalagi cucunya.

Sudah keterlaluan ulah pemerintah mempermainkan uang rakyat, sudah saatnya ada aturan yang berpihak pada yang berhak atas uang itu. Atau negara ini bubar saja.

Dipublikasi di Uncategorized | Tinggalkan Komentar

Untuk Presiden Kafir Libral

Saya tidak yakin kalau tulisan ini akan dibaca olehnya. Olehnya siapa? Ya itu tadi, seperti yang ada di judul: Presiden Kafir Libral yang bernama Dadang Ismawan.

Saya pertama kali melihatnya kira-kira sepuluh tahun yang lalu saat bedah buku Syeh Siti Jenar tulisan Abdul Munir Mulkan. Sama seperti sekarang–cuma dulu masih gemeteran kalau bicara–pernyataannya sangat kontroversial dan selalu membawa-bawa Islam. Maksudnya dalam pernyataannya selalu menunjukkan seakan-akan dia tidak suka Islam. “Saya ini penis, artinya pernah Islam.” Begitu yang sering diucapkannya selain menyebut dirinya Presiden Jakar (Presiden Kafir Libral).

Kemarin dalam sebuah diskusi dia pun tak ketinggalan dalam sesi tanya jawab, komentarnya menunjukkan kebiasaannya. Dia katakan poligami itu tak pernah ada di bumi Nusantara sebelum Islam masuk ke sini. Panjang lebar dia ngomong yang membuat seseorang tampak tidak suka dengan tingkahnya itu. Orang itu pergi ke ruang makanan dan di sana dia menomentari gaya Dadang itu meski dengan berbisik-bisik. Menurutnya, “Ini orang ngomong ‘menurut saya menurut saya’ emang lu siapa? Ngomong tuh harus pakai data. Kalau nggak punya data mending diam saja.”

Saya jawab saja, “Mungkin harus ada orang yang semacam itu pak dalam hidup ini.” Tapi dia terus nggrundel. Saya tertawa dalam hati. Dalam pikiran saya apakah Dadang pernah memikirkan kenyataan-kenyataan seperti ini atau lebih dari itu dia sudah meprediksinya. Entahlah.

Ada juga yang menganggapnya sinting, tapi sebagai orang yang lama menyaksikan gayanya, saya berpikir baik saja sama dia. Semoga saja dia tak seburuk yang orang sangka.

Dipublikasi di Uncategorized | Tag , , | 1 Komentar