Ujung Tombak Demokrasi

Januari 28th, 2010

Ya, ini tentang demokrasi. Cerita tentang demokrasi di negara paling hebat di dunia, Indonesia namanya. Tau dong dimana! Begini ceritanya.

Di negara dengan jumlah pengangguran yang luarbiasa dan dengan bermacam ragam jenis pengangguran, jalanan selalu ramai kapan dan di manapun. Jalan raya, jalan kampung sampai jalan tikus (boleh dibaca: koruptor). Tak saja di waktu pagi saat ramai orang berangkat kerja, saat jam kerja pun keramaian di jalanan tak juga usai. Sampai malam hari tentunya.

Di trotoar, di warung kopi, di teras mesjid orang-orang dengan beraneka penampilan duduk berdiri, diam tertawa berdiskusi dan debat hal-hal hebat. Dan ketika segala macam media massa kini ramai menyajikan berita tentang masalah politik, yang terdengar dari ribut-ribut mereka para pengangguran itu tak lain dan bukan sulapan tentu masalah politik pula. Pemakzulan…pemakzulan…begitulah istilah keren yang sering disebut. Ya, presiden yang telah jalan memimpin negara seratus hari kini, beberapa hari terakhir santer diisukan akan diturunkan oleh beberapa elemen masyarakat karena dianggap tidak becus memimpin. Demonstrasi kecil-kecilan telah dimulai dan demo besar-besaran yang rencananya akan mengepung istana presiden hari ini siap atau telah berlangsung, entahlah (sorry, belum terima berita adanya demo besar-besaran di sekitar istana). Yang pasti obrolan mengenai demo sudah berlangsung beberapa hari.

Ribut-ribut soal demo dan pemakzulan kalau disimak umumnya memang terkesan setuju presiden dimakzulkan dan diganti, sulit rasanya menemukan orang yang bicara lantang mendukung pemerintah. Ini cerita di pinggir jalan, anda tau maksud saya kan?! Tapi, kembali ke awal, sekarang jaman demokrasi. Meski setiap hari mulut orang-orang yang sepertinya pandai ini mengecam pemimpin negara mereka tapi ketika realitas membuka mata mereka, episode lanjutannya malah menggelikan. Yakni, adanya kabar kalau ada sebuah LSM yang siap membayar dengan jumlah uang yang lumayan kepada mereka yang mau ikut demo sebagai massa tandingan, alias yang pro presiden, mereka kusak-kusuk mencari-cari di mana alamat LSM itu berada. Tak perlu disebutlah nama LSM-nya, karena saya sendiri tak mampu membuktikan kebenaran berita yang beredar dengan tidak jelas sumbernya ini. Dan mereka tampak tidak berdebat untuk soal begini. Saya pun ingat kata seorang simpatisan partai beberapa bulan lalu saat ramai pemilu, “kita ini boleh dimanfaatin jadi ujung tombak, asal tidak jadi ujung tombok”. Yah, inilah demokrasi, setiap orang membawa kepentingan masing-masing dan yang perlu diingat sungguh-sungguh, setiap orang butuh uang. Hidup demokrasi.

Ilmu Tai

Nopember 12th, 2009

Tengah malam, duduk di teras sembari makan kacang aku terus dibuat cekakakan. Ngobrol berdua dengan seorang teman yang maunya disebut Satrio Piningit ini memang selalu seru. Semalem dia menjelaskan ilmunya yang dia sebut dengan ilmu tai (maaf kalau terkesan jorok).

Dia bercerita, di kampung ibunya di pinggiran Lamongan, katanya tai sapi satu colt pick up dulu sekitar tahun 80an harganya Rp 12.000,-, itu sesuatu yang mahal menurut dia. Awalnya aku nggak paham kenapa tiba-tiba dia bercerita tentang jual beli tai sapi di kampung ibunya. Lalu dia katakan kalau seekor burung yang terbang di atas danau kemudian berak, tainya yang jatuh ke air akan menimbulkan gelombang, meski tidak besar. Sampai di sini baru aku teringat cerita tentang uang seratus ribu yang ditawarkan pada sekelompok orang. Cerita yang menjelaskan bahwa bagaimanapun keadaannya, selama masih dikenali sebagai uang, keberadaannya tetap bernilai. Uang seratusribuan yang masih licin ataupun yang sudah lecek bahkan kotor karena diludahi seseorang, siapapun pasti masih mau memilikinya. Dan apa yang sedang disampaikan temanku satu ini pun sama demikian maksudnya aku kira.

Ya, memang tidak harus jadi orang terkenal atau punya jabatan mentereng, karena seremeh apapun kondisi kita sebagai manusia, pasti ada nilainya yang berpengaruh terhadap keadaan di dunia ini.

“Tai…kamu tahu apa artinya?” dia terus meledak dan mendesakku yang masih menahan geli. “Tai itu, Taati Al quran Ini,” begitu jelasnya.

Dia katakan kalau dirinya tidak hafal Quran, tapi dia katakan bahwa dia tahu kalau mabok itu dilarang dan ada alasan-alasannya. Maka dia pun tidak mabok. “Madon itu nggak boleh, alasannya begini-begini, ya saya nggak madon,” dia melanjutkan. Sampai di sini aku berhenti tertawa. Aku atur nafasku, ku tatap matanya, ku coba memahami kesungguhannya.

Lagi-lagi Satrio Piningit

Oktober 28th, 2009

Tak disangka tak diduga aku ketemu Satrio Piningit di acara pembukaan pameran lukisan. Dengan penampilan seperti biasanya: jaket hitam, rambut panjang dipocong, kumis dan jenggot yang berambut jarang berklaweran, menenteng kantong plastik dia selalu tampak ceria. Kami ngobrol seperti umumnya orang ngobrol. Kemudian ada seorang perempuan yang entah dari mana datangnya, karena ujug-ujug sudah duduk manis di samping Satrio Piningit. Mereka bicara dengan berbisik-bisik, tak lama kemudian perempuan itu pergi. Satrio Piningit menoleh ke arahku kembali, ekspresinya biasa dan mengatakan sesuatu tentang perempuan yang baru pergi itu begini: “Dia anak buahku, yang aku susupkan ke tempat-tempat penting. Ada tujuh belas orang satu kelompoknya. Dan itu ada di banyak tempat.”
Aku cuma bengong. Harus bagaimana, dong?

Simaklah VI

Oktober 27th, 2009

“Kenakan olehmu pakaian yang terbagus, berjalanlah dengan berwibawa, senyum dan berkata-katalah yang memukau. Buat semua orang kagum agar mau berdiri di belakangmu. Kau bisa memanfaatkan mereka semua semaumu pada waktunya.”

Syaithon (0009-…..)

Tuhan Satrio Piningit

September 14th, 2009

“Dia hanya bisa memanfaatkan orang saja. Yang dilakukannya hanya memanggil-manggil ketika lagi perlu. Sini-sini, apa ini apa itu, lalu kasih duit lima puluh ribu. Nggak sebanding itu, ilmu itu mahal, mosok mung diregoni semono?” sembari makan nasi bungkus yang didapat dari mesjid, Satrio Piningit tak henti-hentinya ngomong cas cis cus. Ada saja yang dikatakannya.

“Dia tanya apa itu tuhan. Saya jawab: tuhan ya anda, tuhan itu saya, tuhan itu dia. Siapa saja bisa jadi tuhan. Tuhan itu singkatan dari Tugas Utama Hancurkan Ahli Neraka. Tugas Utama Hancurkan Antek Narkoba,” seperti ular dia menyolog-nyolog-kan mukanya kearahku saat bicara. Begitu bersemangatnya dia.

Menariknya sosok satu ini adalah ketika berbicara, dia begitu atraktif. Nuansa yang dibawanya meski lebih sering menggelikan tapi tetap meninggalkan pertanyaan-pertanyaan yang rasanya tak pantas kalau dibuang.

Satria Piningit Bercerita

September 9th, 2009

Entah dari mana dia, dengan langkah yang gagah dan senyum yang khas tangannya melambai ke arah kami yang lagi asyik ngobrol nunggu maghrib di teras mesjid. Wah, dari mana gorengan orang hebat satu ini. Sang Satrio Piningit, berkemeja hijau kotak-kotak lembut, disampuli jaket item parasit, topi item dan tangannya menenteng kantong plastik putih besar berisi gelas plastik bekas air minum kemasan.

“Dari mana Cak?”
“Wis biasa ae…”
“Waktu ada gempa kemaren ada di mana sampeyan?”
“Wah, di mana ya? tapi aku gak ngerasa, kayane aku lagi jalan. Awakmu?”
“Aku juga nggak ngerasa, aku tidur.”
“Sebelum dluhur, kira-kira lima menitan sebelum adzan aku kirim SMS ke PKB, ke PKS, ke PNU, terus kemana lagi kemarin…isinya ‘keluarkan seluruh ilmumu, ayo lawan satrio piningit’. Eh, pas ketiduran habis sholat, muncul gede banget kaya trembesi, aku nggak bisa apa-apa dijepit…” Aku nggak tau kenapa tiba-tiba ceritanya jadi ke hal lain, tapi melihat ekspresinya lumayan menghibur. Ada saja Cak Satrio Piningit ini.

Lailatul Qodar

September 7th, 2009

Menjelang akhir Romadlon seperti biasa ramai orang bicara tentang Lailatul Qodar. Malam yang dikatakan lebih mulia dari seribu bulan. Orang-orang biasanya menandai turunnya Lailatul Qodar pada malam malam ganjil. Banyak cerita beredar, dari yang mengatakan bahwa turunnya ditandai dengan terhentinya seluruh gerak alam sampai adanya ketenangan suasana yang luar biasa.

Pernah pada suatu hari kakakku mengajak untuk menanti turunnya Lailatul Qodar ini. Dia bilang, “nanti malem kita ngumpet di sana, kamu yang bawa karungnya. Nanti pas Lailatul Qodarnya turun biar aku yang nangkep lalu wadahi pake karung.” Dalam bayanganku Lailatul Qodar itu sejenis benda yang melayang-layang dan memancarkan sinar.

Belakangan aku mulai menyadari bahwa semua itu takhayul. Ini akibat manusia terlalu asyik dengan pikiran sendiri.

Simaklah (5)

Agustus 29th, 2009

“Puasa akan menghapus dosa-dosamu sampai bersih seperti bayi. Maka lupakan laparmu dengan tidur. Bangunlah menjelang maghrib dan makanlah semua yang ada, karena waktu begitu pendek untuk segalanya.”

Syaithon (0009-…..)

Tentang Sorga dan Neraka

Agustus 20th, 2009

“Sorga dan neraka itu tidak di mana-mana, ia mengikuti kemanapun kamu berada,” kata Christoper Colombo dalam sebuah film tentangnya.

Tau kan siapa dia? aku anggap saja tau. Dan benar taukah dia tentang sorga dan neraka, aku tidak tau, tapi menyimak kalimatnya rasanya cukup bagus…mencerahkan.

Merdeka?!

Agustus 19th, 2009

Jalanan sekitar Monas tanggal 17 dan 18 Agustus kemarin dipenuhi manusia yang ingin merayakan kemerdekaan. Suasananya ramai tapi menegangkan, ini ketika melihat banyak tentara dengan senapan laras panjang berjaga-jaga dengan tampang kaku. Tak cuma tentara adapula polisi, baik yang duduk-duduk ataupun yang keliling dengan mobil atau iring-iringan motor. Panser pun tak ketinggalan mondar-mandir.

Menyaksikan banyak tentara seperti itu terbayang zaman orang tua dulu saat masih dijajah Belanda. Pasti tak beda, apalagi tak semua tentara Belanda orang bule. Tentara-tentara Belanda dulu mengamankan jalanan dari orang pribumi dengan cara demikian karena takut pribumi melakukan kerusuhan. Namanya juga zaman penjajahan.

Sekarang, apa bedanya? Rasanya tak ada beda. Di negeri sendiri dengan pemimpin orang sendiri dipilih sendiri, tapi kita sebagai rakyat seperti para ekstrimis zaman penjajahan yang menghawatirkan para pembesar-pembesar itu. Harus ditakut-takuti, dihardik, diancam supaya diam. Inikah kemerdekaan. Semoga iya.

MERDEKA! Atau MEREKA.