Berita tentang hujan uang yang disebar motivator nomor satu negeri ini Tung DesemWaringin sangat menghebohkan bahkan sampai seorang pesikolog Sartono Mukadis ikut berkomentar. Tetangga rumah banyak yang menanyakan kenapa tidak juga dilakukan di sekitar mereka. Ada saja yang dilakukan orang banyak duit di negeri ini.

Saya jadi ingat dulu waktu kecil sering melakukan sebar makanan yang dijadikan rebutan teman-teman. Ketika ada banyak makanan, entah itu kacang, kerupuk atau apa pun saya sering untuk senang-senang menyebarnya di depan rumah. Teman-teman akan berebut bahkan sampai ada yang terluka. Senang saja waktu itu.

Memberi kepada orang lain bagaimanapun caranya ternyata menyenangkan. Itu mungkin kenapa pemerintah senang bagi-bagi duit lewat BLT. Mereka senang dan bisa melupakan aneka masalah di negeri ini walau sejenak.

Tapi entah sebab apa belakangan saya jadi menyesali apa yang pernah saya lakukan di masa kecil dulu. Mungkin karena sering mendengar cerita dari teman-teman kecil tentang peristiwa yang menyedihkan berkaitan dengan apa yang pernah saya lakukan dulu itu. Tentang teman yang kepalanya bocor karena kepentok tembok saat berebut kacang.

Tapi mungkin sudah kodrat manusia senang bermain-main meski yang jadi bahan mainan itu masih sejenisnya. Atau kita sesungguhnya senang melihat sesama kita menderita? Dan baru menyesal atau pura-pura menyesal di lain waktu juga untuk hiburan.

 

Pocong Ireng

Juni 6th, 2008

Entah sudah berapa lama desas-desus ini beredar, saya sendiri mendengarnya baru. Yaitu tentang sedang bergentayangannya apa yang disebut “Pocong Ireng”. Ireng itu hitam dalam Bahasa Jawa.

Beberapa hari lalu saya pulang ke Brebes, tepatnya di desa Petunjungan kecamatan Bulakamba. Di sanalah bisik-bisik tetangga tentang Pocong Ireng ini saya dengar. Yang saya respon dengan tawa dan banyolan. Tapi berkali-kali saya mendengarnya- sepertinya -jadi terpengaruh juga. Sialan, hi hi…

Ceritanya ada orang yang mencari kekayaan dengan bantuan jin (setan) dan mencari tumbalnya dengan mengutus pocong keliling kampung. Si Pocong konon akan menyentuh pakaian yang ada di jemuran pada malam hari dan ketika pakaian yang telah disentuh pocong itu dipakai oleh pemiliknya si pemilik pakaian akan mati. Saya sendiri tak sempat melakukan penelusuran lebih jauh, untuk mengetahui sudah ada berapa korban yang jatuh, misalnya.

Yang jadi pikiran saya adalah kenapa saya sepertinya terpengaruh oleh cerita itu. Berupaya menolaknya dengan pikiran dan logika tapi muncul saja imajinasi-imajinasi tentang pocong ini. Dan saya yakin anda tak percaya dengan klenik semacam ini, tapi jangan salahkan saya kalau anda merasa was-was karena tak mengangkat jemuran ketika malam, meski anda jauh dari desa saya.