Satria Piningit Bercerita

September 9th, 2009

Entah dari mana dia, dengan langkah yang gagah dan senyum yang khas tangannya melambai ke arah kami yang lagi asyik ngobrol nunggu maghrib di teras mesjid. Wah, dari mana gorengan orang hebat satu ini. Sang Satrio Piningit, berkemeja hijau kotak-kotak lembut, disampuli jaket item parasit, topi item dan tangannya menenteng kantong plastik putih besar berisi gelas plastik bekas air minum kemasan.

“Dari mana Cak?”
“Wis biasa ae…”
“Waktu ada gempa kemaren ada di mana sampeyan?”
“Wah, di mana ya? tapi aku gak ngerasa, kayane aku lagi jalan. Awakmu?”
“Aku juga nggak ngerasa, aku tidur.”
“Sebelum dluhur, kira-kira lima menitan sebelum adzan aku kirim SMS ke PKB, ke PKS, ke PNU, terus kemana lagi kemarin…isinya ‘keluarkan seluruh ilmumu, ayo lawan satrio piningit’. Eh, pas ketiduran habis sholat, muncul gede banget kaya trembesi, aku nggak bisa apa-apa dijepit…” Aku nggak tau kenapa tiba-tiba ceritanya jadi ke hal lain, tapi melihat ekspresinya lumayan menghibur. Ada saja Cak Satrio Piningit ini.

One Response to “Satria Piningit Bercerita”

  1. nonreni said:

    satriya madangkara

Leave a Reply

domba