Mimpi Kali Ini
Maret 12th, 2010
Ini tentang mimpiku. Namanya juga mimpi jadi maafkan jika tidak jelas latar ceritamya. Anggap saja mengada-ada dan kalau merasa tidak nyaman membacanya tak apa-apa kalau anda lekas-lekas pergi jauh untuk mencari makanan atau janda yang bisa digoda.
Ceritanya begini: Di dalam sebuah ruangan yang entah sebesar apa dan bentuknya seperti apa tampak ramai manusia yang sepertinya tengah dalam suasana pesta. Yang tentu saja banyak orang di sana. Dandanan mereka perlente dengan setelan yang mengagumkan, karena berkesan mahal dengan beraneka macam modenya yang tentu saja mutaakhir. Lelaki perempuan membaur saling menyapa yang diiringi senyuman-senyuman yang telah ditakar sedemikian proporsionalnya. Melenggak-lenggok mereka dengan gaya yang entah sudah merupakan bakat alami atau hasil dari belajar dengan biaya yang tinggi. Tapi kenapa pula ini harus dipersoalkan, toh semua ini cuma mimpi.
Ya. Mimpi ini begitu sulit dilupakan ternyata olehku, karena dalam suasananya yang begitu terkesan penuh keakraban, berlangsung pula sesuatu yang bisa dianggap janggal terjadi di dalam acara semacam itu. Di sana, dalam berisik suara-suara percakapan di antara mereka terdengar juga suara-suara yang lazimnya mengganggu tapi sepertinya tidak . Dalam percakapan misalnya ada orang bersendawa sedemikian keras, bahkan sampai bersaut-sautan. Bunyi kentut pun tak kalah dengan bunyi kodok di pekarangan selepas hujan.
Entah seperti apa bau ruangan itu. Menyaksikan orang-orang menenggak minuman beralkohol tak henti-henti kemudian bersendawa. Perut buncit berisi kotoran kentut marathon. Tapi anehnya ekspresi wajah mereka tetap sama dari waktu ke waktu. Entahlah apa benar anggapanku, karena asap rokok kian menebal seiring waktu dan mungkin mengelabui pengelihatanku. Dan sekali lagi ini cuma mimpi, kenapa harus serius di pikiri.
Ilmu Tai
Nopember 12th, 2009
Tengah malam, duduk di teras sembari makan kacang aku terus dibuat cekakakan. Ngobrol berdua dengan seorang teman yang maunya disebut Satrio Piningit ini memang selalu seru. Semalem dia menjelaskan ilmunya yang dia sebut dengan ilmu tai (maaf kalau terkesan jorok).
Dia bercerita, di kampung ibunya di pinggiran Lamongan, katanya tai sapi satu colt pick up dulu sekitar tahun 80an harganya Rp 12.000,-, itu sesuatu yang mahal menurut dia. Awalnya aku nggak paham kenapa tiba-tiba dia bercerita tentang jual beli tai sapi di kampung ibunya. Lalu dia katakan kalau seekor burung yang terbang di atas danau kemudian berak, tainya yang jatuh ke air akan menimbulkan gelombang, meski tidak besar. Sampai di sini baru aku teringat cerita tentang uang seratus ribu yang ditawarkan pada sekelompok orang. Cerita yang menjelaskan bahwa bagaimanapun keadaannya, selama masih dikenali sebagai uang, keberadaannya tetap bernilai. Uang seratusribuan yang masih licin ataupun yang sudah lecek bahkan kotor karena diludahi seseorang, siapapun pasti masih mau memilikinya. Dan apa yang sedang disampaikan temanku satu ini pun sama demikian maksudnya aku kira.
Ya, memang tidak harus jadi orang terkenal atau punya jabatan mentereng, karena seremeh apapun kondisi kita sebagai manusia, pasti ada nilainya yang berpengaruh terhadap keadaan di dunia ini.
“Tai…kamu tahu apa artinya?” dia terus meledak dan mendesakku yang masih menahan geli. “Tai itu, Taati Al quran Ini,” begitu jelasnya.
Dia katakan kalau dirinya tidak hafal Quran, tapi dia katakan bahwa dia tahu kalau mabok itu dilarang dan ada alasan-alasannya. Maka dia pun tidak mabok. “Madon itu nggak boleh, alasannya begini-begini, ya saya nggak madon,” dia melanjutkan. Sampai di sini aku berhenti tertawa. Aku atur nafasku, ku tatap matanya, ku coba memahami kesungguhannya.
“
Lagi-lagi Satrio Piningit
Oktober 28th, 2009
Tak disangka tak diduga aku ketemu Satrio Piningit di acara pembukaan pameran lukisan. Dengan penampilan seperti biasanya: jaket hitam, rambut panjang dipocong, kumis dan jenggot yang berambut jarang berklaweran, menenteng kantong plastik dia selalu tampak ceria. Kami ngobrol seperti umumnya orang ngobrol. Kemudian ada seorang perempuan yang entah dari mana datangnya, karena ujug-ujug sudah duduk manis di samping Satrio Piningit. Mereka bicara dengan berbisik-bisik, tak lama kemudian perempuan itu pergi. Satrio Piningit menoleh ke arahku kembali, ekspresinya biasa dan mengatakan sesuatu tentang perempuan yang baru pergi itu begini: “Dia anak buahku, yang aku susupkan ke tempat-tempat penting. Ada tujuh belas orang satu kelompoknya. Dan itu ada di banyak tempat.”
Aku cuma bengong. Harus bagaimana, dong?
Tuhan Satrio Piningit
September 14th, 2009
“Dia hanya bisa memanfaatkan orang saja. Yang dilakukannya hanya memanggil-manggil ketika lagi perlu. Sini-sini, apa ini apa itu, lalu kasih duit lima puluh ribu. Nggak sebanding itu, ilmu itu mahal, mosok mung diregoni semono?” sembari makan nasi bungkus yang didapat dari mesjid, Satrio Piningit tak henti-hentinya ngomong cas cis cus. Ada saja yang dikatakannya.
“Dia tanya apa itu tuhan. Saya jawab: tuhan ya anda, tuhan itu saya, tuhan itu dia. Siapa saja bisa jadi tuhan. Tuhan itu singkatan dari Tugas Utama Hancurkan Ahli Neraka. Tugas Utama Hancurkan Antek Narkoba,” seperti ular dia menyolog-nyolog-kan mukanya kearahku saat bicara. Begitu bersemangatnya dia.
Menariknya sosok satu ini adalah ketika berbicara, dia begitu atraktif. Nuansa yang dibawanya meski lebih sering menggelikan tapi tetap meninggalkan pertanyaan-pertanyaan yang rasanya tak pantas kalau dibuang.
Satria Piningit Bercerita
September 9th, 2009
Entah dari mana dia, dengan langkah yang gagah dan senyum yang khas tangannya melambai ke arah kami yang lagi asyik ngobrol nunggu maghrib di teras mesjid. Wah, dari mana gorengan orang hebat satu ini. Sang Satrio Piningit, berkemeja hijau kotak-kotak lembut, disampuli jaket item parasit, topi item dan tangannya menenteng kantong plastik putih besar berisi gelas plastik bekas air minum kemasan.
“Dari mana Cak?”
“Wis biasa ae…”
“Waktu ada gempa kemaren ada di mana sampeyan?”
“Wah, di mana ya? tapi aku gak ngerasa, kayane aku lagi jalan. Awakmu?”
“Aku juga nggak ngerasa, aku tidur.”
“Sebelum dluhur, kira-kira lima menitan sebelum adzan aku kirim SMS ke PKB, ke PKS, ke PNU, terus kemana lagi kemarin…isinya ‘keluarkan seluruh ilmumu, ayo lawan satrio piningit’. Eh, pas ketiduran habis sholat, muncul gede banget kaya trembesi, aku nggak bisa apa-apa dijepit…” Aku nggak tau kenapa tiba-tiba ceritanya jadi ke hal lain, tapi melihat ekspresinya lumayan menghibur. Ada saja Cak Satrio Piningit ini.
Tentang Sorga dan Neraka
Agustus 20th, 2009
“Sorga dan neraka itu tidak di mana-mana, ia mengikuti kemanapun kamu berada,” kata Christoper Colombo dalam sebuah film tentangnya.
Tau kan siapa dia? aku anggap saja tau. Dan benar taukah dia tentang sorga dan neraka, aku tidak tau, tapi menyimak kalimatnya rasanya cukup bagus…mencerahkan.
Mungkin
Agustus 13th, 2009
Mungkin menang mungkin juga tewas. Pokoknya NOTHING IMPOSSIBLE- nggak ada yang nggak mungkin, ta iye?
Orang-orang sering memberi nasihat agar hidup ini harus optimis, yakin ketika akan melangkah dan segala macem yang kadang membuat kita jadi jengkel karena kesannya belagu. Dan memang orang-orang macam itu banyak lagunya, mentang-mentang lagi bagus posisinya terus rumangsa punya kemampuan, sukses, hebat, tapi biarlah entar juga mati sendiri. Hehe…
Bicara tentang nggak ada yang nggak mungkin dalam hidup ini pokoknya harus tau dari mana kita berangkat ketika akan membicarakannya, karena bisa saja hidup ini isinya ketidakmungkinan. Harus jelas dulu apa itu mungkin dan apa itu kemungkinan dan ketidakmungkinan. Lalu kaitannya dengan kata impossible. Ini jelas pusing ini, tapi daripada bengong nglamunin janda. Walaupun nglamunin janda pun sangat mungkin untuk menghasilkan, lha tetanggaku yang nggak pernah nglamunin ibu temen maennya yang janda aja jadi suaminya. Walaupun hubungan pertemanannya jadi rusak, lha gimana toh, dari temen jadi bapak. Yang jelas tulisan ini ngelantur dan ini membuktikan bahwa hidup ini selalu mungkin. Nothing impossible!
Tulisan ini mungkin untuk menang…asal tau tulisan ini diikutkan pada Blog Contest: Nothing Impossible yang di gelorakan oleh Dindasmart [dot] com dan bala bantuannya, mau ikut? jangan takut, tua muda pemula atawa yang kawakan boleh asal punya blog. Yang nggak punya blog juga boleh ngikut, syaratnya harus bikin blog dulu. Syarat lainnya lihat di http://dindasmart.com/2009/07/blog-contest-nothing-impossible/
Sudah dulu, nani nyambung… di sini banyak teroris.
Gila Duit
Agustus 7th, 2009
“Besar kecil gila duit, besar kecil gila duit…”begitu wiridnya terus menerus. Nggak tau kenapa dan apa maksudnya. Yang pasti ucapannya nggak berhenti juga sampai aku jauh melewatinya. Sampai sekarang terus terngiang-ngiang. Gile bener nih orang.
Orangnya sudah tua dengan tampang yang keriputnya udah nggak ketulungan. Rambut putih, bajunya dekil ndeprok di pinggir jalan dekat setasiun Cikini. Pokoknya kalau ketemu silahkan kenalan sendirilah.
Besar kecil gila duit. Siapa besar siapa kecil…ah, yang jelas bukan besar kecil tapi tua muda, laki perempuan, gendut kurus pada gila sama duit. Kecuali…