Senayan Tempat Sampah
Maret 8th, 2010
Minggu kemarin (7 Maret 2010) jalan-jalan ke Senayan alangkah ramainya. Manusia beraneka rupa hadir di sana. Mereka datang berkelompok, tapi pasti ada yang datang sendiri. Diriku dengan pasangan.
Senayan hari Minggu lalu ramai oleh manusia bukan karena ada event olah raga semacam PON, Olimpiade atau Piala Dunia, melainkan di sana secara bersamaan berlangsung beberapa pameran. Di JCC (Jakarta Convention Centre) ada beberapa, seperti Bazar Komputer dan Pameran Eco Product. Di Istora ada Pameran Buku-buku Islam. Di lapangan parkir ada aksi peduli demam berdarah yang diselenggarakan oleh sebuah perusahaan obat nyamuk.
Berada di sana dalam keramaian manusia yang berjalan kaki atau berkendaraan dan disengat panasnya cahaya matahari perasaan masih enak-enak saja. Tetapi ketika akan membuang sampah bekas bungkus makanan perasaan enak itu berubah jengkel. Entah jengkel pada siapa, mungkin pada pengelola kawasan itu karenanya saya harus menenteng-nenteng barang yang sudah tidak diperlukan lagi. Benar-benar sulit setengah mati mencari tempat sampah. Bisa saja meninggalkan sampah di manapun karena sampah di lapangan parkir berserakan, tapi saya lagi belajar membuang sampah pada tempatnya. Dan mungkin karena masih belajar, jadi gampang jengkel.
Dari pengalaman menyusuri lapangan parkir dan trotoar bahkan sampai ke Ratu Plaza ternyata tempat sampah merupakan barang langka. Apakah ini sengaja, atau dulunya ada dan sekarang sudah pada rusak sehingga tidak tampak lagi sosok-sosoknya. Entahlah, yang jelas kemarin mata ini tak sekalipun melihat tempat sampah dalam perjalanan. Mungkin karena suasananya ramai atau mata ini sudah kotok.
Karena sampah berserakan dapat ditemui di mana-mana dan menenteng kantong plastik terlalu lama yang meski ringan terasa berat, maka pada akhirnya sampahku pun nggletak sembarang. Ternyata belajar itu berat. Belajar buang sampah pada tempatnya di sebuah negeri yang di dalamnya gampang mendengar ungkapan “kebersihan itu bagian dari iman” saja tantangannya sebegitu, bagaimana kalau …ah, sudahlah. Yang jelas aku gagal membuang sampah pada tempatnya.
Tapi, kenapa aku tidak berpikir kalau senayan itu, khususnya lapangan parkirnya sengaja di jadikan tempat sampah. Toh sampah bebar-benar banyak berserakan di sana. Dan tak gagallah proses belajarku.
Satria Piningit Bercerita
September 9th, 2009
Entah dari mana dia, dengan langkah yang gagah dan senyum yang khas tangannya melambai ke arah kami yang lagi asyik ngobrol nunggu maghrib di teras mesjid. Wah, dari mana gorengan orang hebat satu ini. Sang Satrio Piningit, berkemeja hijau kotak-kotak lembut, disampuli jaket item parasit, topi item dan tangannya menenteng kantong plastik putih besar berisi gelas plastik bekas air minum kemasan.
“Dari mana Cak?”
“Wis biasa ae…”
“Waktu ada gempa kemaren ada di mana sampeyan?”
“Wah, di mana ya? tapi aku gak ngerasa, kayane aku lagi jalan. Awakmu?”
“Aku juga nggak ngerasa, aku tidur.”
“Sebelum dluhur, kira-kira lima menitan sebelum adzan aku kirim SMS ke PKB, ke PKS, ke PNU, terus kemana lagi kemarin…isinya ‘keluarkan seluruh ilmumu, ayo lawan satrio piningit’. Eh, pas ketiduran habis sholat, muncul gede banget kaya trembesi, aku nggak bisa apa-apa dijepit…” Aku nggak tau kenapa tiba-tiba ceritanya jadi ke hal lain, tapi melihat ekspresinya lumayan menghibur. Ada saja Cak Satrio Piningit ini.
Lailatul Qodar
September 7th, 2009
Menjelang akhir Romadlon seperti biasa ramai orang bicara tentang Lailatul Qodar. Malam yang dikatakan lebih mulia dari seribu bulan. Orang-orang biasanya menandai turunnya Lailatul Qodar pada malam malam ganjil. Banyak cerita beredar, dari yang mengatakan bahwa turunnya ditandai dengan terhentinya seluruh gerak alam sampai adanya ketenangan suasana yang luar biasa.
Pernah pada suatu hari kakakku mengajak untuk menanti turunnya Lailatul Qodar ini. Dia bilang, “nanti malem kita ngumpet di sana, kamu yang bawa karungnya. Nanti pas Lailatul Qodarnya turun biar aku yang nangkep lalu wadahi pake karung.” Dalam bayanganku Lailatul Qodar itu sejenis benda yang melayang-layang dan memancarkan sinar.
Belakangan aku mulai menyadari bahwa semua itu takhayul. Ini akibat manusia terlalu asyik dengan pikiran sendiri.
Lagi Satria Piningit Berkata
Agustus 12th, 2009
“Jadi orang harus gila. Tau apa itu GILA? Gila itu Gunakan Ilmu Lakukan Atraksi. Bener enggak?” terus terang saya suka ekspresinya, “Kita harus gila karena hidup ini gila. Lihat saja di televisi, di koran-koran, di jalanan, gila mereka. Gila harta, gila kuasa, gila wanita. Mereka sudah nggak sehat lagi akalnya, segala macam hal dilakukan untuk kesenangan. Tapi kita jangan ikutan gila seperti mereka. Sebagai orang beragama kita harus teguh pada prinsip. Gila kita gila yang positip, yang menambah nilai kemanusiaan kita. Makanya gunakan ilmu lakukan ateraksi, bener apa nggak?!”
Aku hanya bisa mesem-mesem karena sungguh nggak tau harus bagaimana. Nih orang tampangnya kumel, rambut acak-acakan tapi kalo ngomong bikin bengong.
Karepmu Cak, aku manut ae… Asal tau saja, aku sering dikasih makanan sama dia, terakhir dikasih susu saset.
Simaklah IV
Agustus 6th, 2009
“Ingin masuk surga? Berlama-lamalah dalam berwudlu. Sholatlah yang khusyu, tak usah pedulikan orang lain karena mereka semua pengganggu!”
-Syaithon (0009 - …..)
Keluh Kesah Susah
Agustus 5th, 2009
Mbak Tati, “Masak si Ida yang duitnya udah nggak kepake dapet beelte juga. Mang Doli yang jelas nggak punya rumah dan nggak jelas kerjanya malah nggak dapet.”
*Mbak Tati adalah seorang ibu dengan empat anak tanpa suami (suaminya ngilang tanpa jejak) dan tanpa pekerjaan yang menghasilkan uang karena sibuk mengurus anak-anaknya yang masih kecil. Hidupnya mengandalkan uang pensiun bapaknya (alm) yang bekas pegawai pelabuhan yang tak seberapa.
Kepada Mbah Surip
Agustus 4th, 2009
Mbah…
Kemana Mbah…?
Pergi jauh ya!?
Ninggalin aku yang baru bangun tidur
Ninggalin aku yang lagi seneng digendong
Digendong, enak tau Mbah
Mbah…
Aku kesepian nggak punya teman lama sekali
Tiba-tiba Mbah datang menggendong
I Love You Full
Mbah…
Datang sebentar mengantar senang
Mbah ngakak aku ikut ngakak
Mbah pergi aku di sini
Mau tidur lagi
Mbah…
Kemana Mbah?
Ketemu Uka-uka!?
Mau naik apa?
Pasti bukan pesawat atau busway
Mbah…
Aku takut sendiri
Ada kroncong setan
Di sini
Mbah…
Bom Marriot II
Juli 17th, 2009
“Itu aku yang ngebom. Hati-hati habis sholat jum’at, koen minggiro disek”
Sebuah SMS masuk ke hapeku beberapa saat setelah aku mendengar berita ledakan itu.*
*Betapa kecelakaan pada seseorang akhirnya jadi candaan bagi yang lain.
Aku Masih Bingung
Juli 10th, 2009
Hasil pemilu sungguh mengejutkan, meski sudah menduga dari sebelumnya bahwa nomor dua unggul. Tapi hasil yang tampak di layar teve itu, lho…
Ini bukan sedang menganggap ada kecurangan, tapi kita semua tau bagaimana sebuah perlombaan (ini perlombaan!)
Ribut Daftar Pemilih kan sudah lama, tapi banyak orang masih dapat undangan memilih lebih dari satu. Aku sendiri dapat kertas suara hanya karena kenal petugas TPS, padahal bukan warga setempat.
Untuk apa ribut soal DPT, pakai tinta segala… lha kayaknya nggak jelas perlunya itu.
Satria Piningit Berkata
Juli 2nd, 2009
“Saya tidak sembarangan ngasih gambar saya, kamu saya kasih gambar saya ini ibarat saya ngasih pancing-kamu harus gunakan. Kamu dekati orang-orang, kamu tunjukan gambar saya, jelaskan apa yang kamu dapat dari saya. Dan karena saya sudah kasih gambar kamu harus bayar sama saya. Nggak banyak, Cuma 17 rupiah. Terserah kapan kamu mau bayar, ini utang.”